Karakteristik dan Mekanisme Keterbentukan Batuan Pra-Tersier Daerah Simpang, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan
DOI:
https://doi.org/10.56099/ophi.v8i1.p13-25Kata Kunci:
evolusi, karakteristik, petrografi, sejarah, simpang, tektonikAbstrak
Daerah Simpang, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, merupakan bagian dari wilayah Pra-Tersier Pulau Sumatera yang menyimpan rekaman evolusi tektonik dan magmatisme yang kompleks akibat interaksi lempeng sejak Paleozoikum hingga Mesozoikum. Keberadaan satuan batuan metamorf, sedimen, vulkanik, hingga granitoid menunjukkan peran penting proses subduksi, kolisi, dan akresi dalam pembentukan kondisi geologi regional. Lokasi penelitian daerah simpang memiliki kompleksitas kondisi geologi khususnya pada batuan pra tersier yang tersingkap akibat adanya kolisi antara woyla arc dan west sumatera blok, kondisi geologi pada ini dapat mencerminkan karakteristik dan proses mekanisme keterbentukan batuan pada daerah penelitian. Penelitian terdahulu membahas mengenai skematik struktur geologi woyla arc pada kompleks garba, sehingga penelitian bertujuan mengembangkan runtutan mekanisme keterbentukan formasi batuan Pra-Tersier serta karaktersitik batuan Pra-Tersier di daerah penelitian melalui pendekatan hasil pemetaan geologi dan analisis petrografi, sehingga dapat merekonstruksi sejarah geologi dan lingkungan tektonik pembentukannya. Metode penelitian meliputi pemetaan geologi dan analisis petrologi. Mekanisme keterbentukan batuan Pra-Tersier di Daerah Simpang dikontrol oleh evolusi tektonik konvergen multitahap sejak Karbon–Permian hingga Kapur Akhir. Tahap awal ditandai oleh subduksi Paleotethys yang memicu metamorfisme regional dan menghasilkan batuan dasar Formasi Tarap (PCt). Selanjutnya, subduksi dan akresi Mesotethys membentuk satuan rijang serta andesit busur kepulauan pada Formasi Garba Anggota Situlanglalang (Kjgs) dan Anggota Insu (Kjgv). Deformasi tektonik intens dalam lingkungan prisma akresi menghasilkan Kompleks Mélange (Km). Pada tahap akhir, aktivitas magmatisme busur menyebabkan intrusi Granit Garba (Kgr). Keseluruhan proses ini mencerminkan interaksi dinamis antara subduksi, akresi, deformasi, dan magmatisme dalam membentuk kerangka geologi regional yang kompleks.
Referensi
Barber, A. J., Crow, M. J. & Milsom, J. S. 2005. Sumatra: Geology, Resources and Tectonic Evolution. Geological Society, London, Memoirs. https://doi.org/10.1144/gsl.Mem.2005.031
Boggs, S., 1987. Principles of Sedimentology and Stratigraphy (5 ed.). Edinburgh, Pearson Prentice Hall.
Gafoer, S., Amin, T.C., & Pardede, R., 1993. Geological Map of The Baturaja Quadranangel, Sumatera. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.
Hall, R. 2000. Cenozoic plate tectonic reconstructions of SE Asia. Geological Society, London, Special Publications, 126(1), pp. 11–23. https://doi.org/doi:10.1144/GSL.SP.1997.126.01.03
Hamilton, W. 1973. Tectonics of the Indonesian Region. Bulletin of the Geological Society of Malaysia, 6, pp. 3–10. https://doi.org/10.7186/bgsm06197301
Handini, E., Setiawan, N.I., Husein, S., & Adi, P.C. 2017. Petrologi Batuan Alas Cekungan (Basement) Pra-Tersier di Pegunungan Garba, Sumatera Selatan. Joint Convention Malang, HAGI – IAGI – IAFMI- IATMI.
Haty, I.P, Idarwati, Harjanto, A., & Maskuri, F. 2020. Air Terjun Way Lubar Produk Sesar Pra Tersier Pulau Sumatera. Yogyakarta, LPPM UPN Veteran Yogyakarta.
Hawkesworth, C., Cawood, P., & Dhuime, B. 2013. Continental growth and the crustal record. Tectonophysics, 609, pp. 651–660. https://doi.org/10.1016/j.tecto.2013.08.013
Idarwati, Purwanto, H. S., Sutriyono, E., & Prasetyadi, C. 2018. Revealing granitic basement of Garba Hill, Muara Dua Region, South Sumatera based on landsat images, structure, and petrography. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 212, pp. 012041. https://doi.org/10.1088/1755-1315/212/1/012041
Idarwati, Purwanto, H. S., Sutriyono, E., Prasetyadi, C., & Jati, S. N. 2021. History Woyla Arc of the Garba Complex: Implications for Tectonic Evolution of the South Sumatra Region, Indonesia. Journal of Geoscience and Environment Protection, 09(12), pp. 118–132. https://doi.org/10.4236/gep.2021.912008
Idarwati, Setiawan, B., Jati, S. N., Rochmana, Y. Z., Mayasari, E. D. & Rendana, M. 2025. Schematic formation of boudine granite and microfold phyllite of Gilas River: Implications for Triassic to Tertiary tectonics of Garba Hill, South Ogan Komering Ulu Regency, South Sumatra Province. Geosystems and Geoenvironment, 4(3), pp. 100414. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.geogeo.2025.100414
Indriyanto, J. N. 2025. Evaluating ascent condition during the formation of 723 CE vulcanian eruption of Kelud: Implication for hazard. OPHIOLITE: Jurnal Geologi Terapan, 7(2), pp. 49–58. https://doi.org/10.56099/ophi.v7i2.p49-58
Koesoemadinata, R.P., Kesumajana, A.H.P., & Sadjati, O. 2000. The utilization of paleo heatflow to define a source rock maturity: case study at Ngimbang-01, North East Java Basin, Indonesia. AAPG International Conference and exhibition, Bali, Indonesia.
Metcalfe, I., 2013. Gondwana dispersion and Asian accretion: Tectonic and palaeogeographic evolution of eastern Tethys. Journal of Asian Earth Sciences. 66, pp. 1–33. https://doi.org/10.1016/j.jseaes.2012.12.020
Munasri & Putra, A.M. 2019. First evidence of Middle to Late Triassic radiolarians in the Garba mountains, South Sumatra, Indonesia. Island Arc, 28(3), e12298. https://doi.org/10.1111/iar.12298
Panggabean, H. & Santy, L. D. 2012. Sejarah penimbunan Cekungan Sumatera Selatan dan implikasinya terhadap waktu generasi hidrokarbon. Jurnal Sumber Daya Geologi, 22(4), pp. 225–235. https://doi.org/10.33332/jgsm.geologi.v22i4.122
Paterson, S., Memeti, V., Mundil, R., & Žák, J. 2016. Repeated, multiscale, magmatic erosion and recycling in an upper-crustal pluton: Implications for magma chamber dynamics and magma volume estimates. American Mineralogist, 101(10), pp. 2176–2198. https://doi.org/10.2138/am-2016-5576
Pulunggono, A., Haryo, A.S. & Kosuma, C.G., 1992. Pre-Tertiary and Tertiary fault system as a framework of the South Sumatra Basin: a study of SAR map. Proceedings of the Indonesian Petroleum Association, Jakarta.
Raymond, L.A. 2019. Perspectives on the roles of melanges in subduction accretionary complexes: A review, Gondwana Research, 74, pp. 68-89. https://doi.org/10.1016/j.gr.2019.03.005 .
Robertson, S. 1999. BGS Rock Classification Scheme Volume 2 Classification of Metamorphic Rocks. British Geologi Survey. United Kingdom.
Stern, R. J., & Scholl, D. W. 2010. Yin and yang of continental crust creation and destruction by plate tectonic processes. International Geology Review, 52(1), pp. 1–31. https://doi.org/10.1080/00206810903332322
Streckeisen, A. 1974. Classification and nomenclature of plutonic rocks recommendations of the IUGS subcommission on the systematics of Igneous Rocks. Geologische Rundschau, 63(2), pp. 773–786. https://doi.org/10.1007/BF01820841
Van Zuidam, R.A. 1983. Guide to Geomorphologic-Aerial Photographic Interpretation and Mapping, International Institute for Geo-Information Science and Earth Observation, Enschede.
Wakabayashi, J. 2011. Mélanges of the Franciscan Complex, California: Diverse structural settings, evidence for sedimentary mixing, and their connection to subduction processes. Dalam: Wakabayashi, J. & Dilek, Y. (eds.) Mélanges: Processes of Formation and Societal Significance. Geological Society of America. pp. 117-142. https://doi.org/10.1130/2011.2480(05)
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Muhammad Aldriansyah Abellino, Idarwati Idarwati

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







